Kabupaten Karawang

487 Hits

Profil

Lambang Daerah Kabupaten KarawangBerkas:Reynan-Karawang-full.jpgKabupaten Karawang adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Karawang. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor di barat, Laut Jawa di utara, Kabupaten Subang di timur, Kabupaten Purwakarta di tenggara, serta Kabupaten Cianjur di selatan ini memiliki luas wilayah 1.737,53 km2, dengan jumlah penduduk 2.125.234 jiwa (sensus 2010) yang berarti berkepadatan 1.223 jiwa per km2.

Toponomi dan sejarah

Toponomi

Kata karawang muncul pada Naskah Bujangga Manik dari akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16. Bujangga Manik menuliskan sebagai berikut:

leteng karang ti Karawang,

leteng susuh ti Malayu,

pamuat aki puhawang.

Dipinangan pinang tiwi,

pinang tiwi ngubu cai,

Dalam bahasa Sunda, karawang mempunyai arti “penuh dengan lubang”. Bisa jadi pada daerah Karawang zaman dulu banyak ditemui lubang.

Cornelis de Houtman, orang Belanda pertama yang menginjakkan kakinya di pulau Jawa, pada tahun 1596 menuliskan adanya suatu tempat yang bernama Karawang sebagai berikut:

Di tengah jalan antara Pamanukan dan Jayakarta, pada sebuah tanjung terletak Karawang.
Meskipun ada sumber sejarah primer yaitu Naskah Bujangga Manik dan catatan dari Cornelis de Houtman yang menyebutkan kata Karawang, sebagian orang menyebutnya Kerawang adapula yang menyebut Krawang seperti yang ditulis dalam buku Miracle sight West Java[butuh rujukan] yang diterbitkan oleh Provinsi Jawa Barat.

R. Tjetjep Soepriadi dalam buku Sejarah Karawang berspekulasi tentang asal-muasal kata karawang, pertama kemungkinan berasal dari kata karawaan yang mengandung arti bahwa daerah ini terdapat “banyak rawa”, dibuktikan dengan banyaknya daerah yang menggunakan kata rawa di depannya seperti, Rawa Gabus, Rawa Monyet, Rawa Merta dan lain-lain; selain itu berasal dari kata kera dan uang yang mengandung arti bahwa daerah ini dulunya merupakan habitat binatang sejenis monyet yang kemudian berubah menjadi kota yang menghasilkan uang; serta istilah serapan yang berasal dari bahasa Belanda seperti caravan dan lainnya.

Pemukiman awal

Berkas:Candi Batujaya.jpgWilayah Karawang sudah sejak lama dihuni manusia. Peninggalan Situs Batujaya dan Situs Cibuaya yang luas menunjukkan pemukiman pada awal masa moderen yang mungkin mendahului masa Kerajaan Tarumanagara. Penduduk Karawang semula beragama Hindu dan Budha dan wilayah ini berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda.

Penyebaran Islam

Agama Islam mulai dianut masyarakat setempat pada masa Kerajaan Sunda, setelah seorang patron bernama Syekh Hasanudin bin Yusuf Idofi, konon dari Makkah, yang terkenal dengan sebutan “Syekh Quro”, Syekh Quro merupakan seorang utusan Raja Campa yang mengikuti pelayaran persahabatan ke Majapahit dari Dinasti Ming yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho (Kapal Laksamana Cheng Ho tercatat mendarat di Pelabuhan Muara Jati, Kerajaan Singapura (cikal bakal Kesultanan Cirebon pada tahun 1415.), ketika kapal sudah berada di Pura, Karawang, Syekh Quro beserta pengikutnya turun dan tinggal untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Pura dan kemudian menikah dengan Putri Ki Gede Karawang yang bernama Ratna sondari[ dan meluaskan pengajarannya hingga ke wilayah Pura Dalem (Pedalaman Pura) kemudian mendirikan pesantren di Desa Pulo Kelapa (sekarang masuk kecamatan Lemah Abang, Kabupaten Karawang)

Dari pernikahannya dengan Ratna Sondari, Syekh Quro memiliki seorang anak yang diberi nama Ahmad, Ahmad inilah yang kemudian dikenal dengan nama Syekh Ahmad (Penghulu Pertama di Karawang), Syekh Ahmad pernah diperintahkan oleh ayahnya untuk membantu Syekh Nur Jati atau Syekh Datuk Kahfi di Pesambangan (sekarang masuk wilayah kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon).

Hubungan penyebaran Islam di Karawang dengan Kesultanan Cirebon

Puteri Ki Gede Karawang yaitu Ratna sondari memberikan sumbangan hartanya untuk mendirikan sebuah masjid di Gunung Sembung (letaknya berdekatan dengan Gunung Jati) atau dikenal dengan sebutan (Nur Giri Cipta Rengga) yang bernama Masjid Dog Jumeneng atau Masjid Sang Saka Ratu, yang sampai sekarang masih digunakan dan terawat baik.

Syekh Ahmad (Anak Syekh Quro dengan Ratna sondari) kemudian berkeluarga dan memiliki seorang putera bernama Musanudin, Musanudin inilah yang kemudian menjadi Lebai di Kesultanan Cirebon dan memimpim Masjid Agung Sang Cipta Rasa pada masa kepemimpinan Sunan Gunung Jati

Syekh Quro memberikan ajaran yang kemudian dilanjutkan oleh murid-murid Wali Sanga. Makam Syeikh Quro terletak di Pulobata, Kecamatan Lemahabang.

Masa kekuasaan Kesultanan Cirebon

Berkas:Reynan-masjid-agung-karawang-2014-04-28-405 result 2.jpgSetelah Kerajaan Sunda runtuh maka wilayah antara sungai Angke dan sungai Cipunegara terbagi dua. Menurut Carita Sajarah Banten, Sunan Gunung Jati pada abad ke 15 membagi wilayah antara sungai Angke dan sungai Cipunegara menjadi dua bagian dengan sungai Citarum sebagai pembatasnya, sebelah timur sungai Citarum hingga sungai Cipunegara masuk wilayah Kesultanan Cirebon yang sekarang menjadi Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang dan sebelah barat sungai Citarum hingga sungai Angke menjadi wilayah bawahan Kesultanan Banten dengan nama Jayakarta.

Pemerintahan mandiri

Sebagai suatu daerah berpemerintahan sendiri tampaknya dimulai semenjak Karawang diduduki oleh Kesultanan Mataram, di bawah pimpinan Wiraperbangsa dari Sumedang Larang tahun 1632. Kesuksesannya menempatkannya sebagai wedana pertama dengan gelar Adipati Kertabumi III. Semenjak masa ini, sistem pertanian melalui pengairan irigasi mulai dikembangkan di Karawang dan perlahan-lahan daerah ini menjadi daerah pusat penghasil beras utama di Pulau Jawa hingga akhir abad ke-20.

Selanjutnya, Karawang menjadi kabupaten dengan bupati pertama Raden Adipati Singaperbangsa bergelar Kertabumi IV yang dilantik 14 September 1633. Tanggal ini dinobatkan menjapada hari jadi Kabupaten Karawang. Selanjutnya, bupatinya berturut-turut adalah R. Anom Wirasuta 1677-1721, R. Jayanegara (gelar R.A Panatayuda II) 1721-1731, R. Martanegara (R. Singanagara dengan gelar R. A Panatayuda III) 1731-1752, R. Mohamad Soleh (gelar R. A Panatayuda IV) 1752-1786. Pada rentang ini terjadi peralihan penguasa dari Mataram kepada VOC (Belanda).

Menjelang kemerdekaan

Berkas:Reynan-Gedung-Juang-Karawang-20140415-362.jpgPada masa menjelang Kemerdekaan Indonesia, Kabupaten Karawang menyimpan banyak catatan sejarah. Rengasdengklok merupakan tempat disembunyikannya Soekarno dan Hatta oleh para pemuda Indonesia untuk secepatnya merumuskan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 16 Agustus 1945.

Kabupaten Karawang juga menjadi inspirasi sastrawan Chairil Anwar menulis karya Antara Karawang-Bekasi karena peristiwa pertempuran di daerah sewaktu pasukan dari Divisi Siliwangi harus meninggalkan Bekasi menuju Karawang yang masih menjadi daerah kekuasaan Republik.

Kecamatan Rengasdengklok adalah daerah pertama milik Republik Indonesia yang gagah berani mengibarkan bendera Merah Putih sebelum Proklamasi kemerdekaan Indonesia di Gaungkan.[butuh rujukan] Oleh karena itu selain dikenal dengan sebutan Lumbung Padi Karawang juga sering disebut sebagai Kota Pangkal Perjuangan. Di Rengasdengklok didirikan sebuah monumen yang dibangun oleh masyarakat sekitar, kemudian pada masa pemerintahan Megawati didirikan Tugu Kebulatan Tekad untuk mengenang sejarah Republik Indonesia.

Setelah kemerdekaan

Wilayah Karawang pada masa lalu (hasil pembagian oleh Sunan Gunung Jati pada abad ke 15) kemudian dipecah menjadi dua bagian pada masa perang kemerdekaan sekitar tahun 1948 dengan sungai Citarum dan sungai Cilamaya menjadi pembatasnya, wilayah Kabupaten Karawang Barat meliputi wilayah Kabupaten Karawang sekarang ditambah desa-desa di sebelah barat Citarum yaitu desa-desa Sukasari dan Kertamanah dengan ibukota di kecamatan Karawang, sementara Kabupaten Karawang Timur meliputi wilayah Kabupaten Purwakarta dikurangi desa-desa di kecamatan Sukasari (yang dahulu masih bagian dari Kabupaten Karawang) dan Kabupaten Subang dengan ibukota di kecamatan Subang.

lalu kemudian pada tahun 1950 nama Kabupaten Karawang Timur diubah menjadi Kabupaten Purwakarta dengan ibukota di kecamatan Subang dan Kabupaten Karawang Barat menjadi Krawang dengan ibukota di kecamatan Karawang.

Pada tahun 1968 terjadi pemekaran wilayah Kabupaten Purwakarta yang sebelumnya bernama Kabupaten Karawang Timur menjadi Kabupaten Subang dengan ibukota di kecamatan Subang dan Kabupaten Purwakarta dengan ibukota di kecamatan Purwakarta, karena pada tahun yang sama berlangsung proyek besar bendungan Ir. Djuanda atau yang dikenal dengan nama Bendungan Jatiluhur maka pemerintah pusat pada masa itu merasa perlu untuk menyatukan wilayah waduk Jatiluhur ke dalam satu wilayah kerja yang akhirnya diputuskan dimasukan ke dalam wilayah Kabupaten Purwakarta sehingga pada tahun 1968 wilayah Kabupaten Krawang harus melepaskan desa-desa yang berada disebelah barat sungai Citarum yang masuk dalam proyek besar bendungan Ir. Djuanda atau Bendungan Jatiluhur, desa-desa tersebut adalah desa-desa Sukasari dan Kertamanah yang sekarang masuk dalam kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, sehingga dengan diterbitkannya Undang-Undang No. 4 Tahun 1968 maka wilayah Kabupaten Krawang menjadi berkurang dan wilayah inilah yang dikemudian hari disebut sebagai Kabupaten Karawang

Geologi

Wilayah Kabupaten Karawang sebagian besar dataran pantai yang luas, terhampar di bagian pantai Utara dan merupakan endapan batuan sedimen yang dibentuk oleh bahan–bahan lepas terutama endapan laut dan aluvium vulkanik. Sedangkan di bagian tengah kawasan perbukitan yang sebagian besar terbentuk oleh batuan sedimen, sedang di bagian Selatan terdapat Gunung Sanggabuana dengan ketinggian ± 1.291 m di atas permukaan laut.

Topografi

Sebagian besar wilayah Kabupaten Karawang adalah dataran rendah, dan di sebagian kecil di wilayah selatan berupa dataran tinggi.

Iklim

Sesuai dengan bentuk morfologinya Kabupaten Karawang terdiri dari dataran rendah yang mempunyai temperatur udara rata-rata 270C dengan tekanan udara rata-rata 0,01 milibar, penyinaran matahari 66 persen dan kelembaban nisbi 80 persen. Curah hujan tahunan berkisar antara 1.100 – 3.200 mm/tahun. Pada bulan Januari sampai April bertiup angin Muson Laut dan sekitar bulan Juni bertiup angin Muson Tenggara. Kecepatan angin antara 30 – 35 km/jam, lamanya tiupan rata-rata 5 – 7 jam.

Hidrografi

Kabupaten Karawang dilalui oleh aliran sungai yang melandai ke arah utara: Cibe’et yang mengalir dari selatan karawang menuju sungai citarum yang juga menjadi batas antara Kabupaten Karawang dan Bekasi,Citarum, yang merupakan pemisah Kabupaten Karawang dari Kabupaten Bekasi, dan Cilamaya, yang merupakan batas wilayah dengan Kabupaten Subang. Selain sungai, terdapat juga tiga buah saluran irigasi yang besar yaitu Saluran Induk Tarum Utara, Saluran Induk Tarum Tengah dan Saluran Induk Tarum Barat yang dimanfaatkan untuk pengairan sawah, tambak, dan pembangkit tenaga listrik.

Curah hujan

Curah hujan di suatu tempat dipengaruhi oleh keadaan iklim, keadaan orografi dan perputaran/ pertemuan arus udara. Oleh karena itu, jumlah curah hujan sangat beragam menurut bulan. Catatan rata-rata curah hujan di Kabupaten Karawang selama tahun 2005 mencapai 2.534 mm dengan rata-rata curah hujan per bulan sebesar 127 mm, lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata curah hujan pada tahun 2004 yang mencapai 1.677 mm dengan rata-rata curah hujan per bulannya mencapai 104 mm. Kadang suka pindah ke wilayah Kabupaten Bekasi awannya biar Jakarta hujan deras.

Pada tahun 2005 rata-rata curah hujan tertinggi terjadi di Kecamatan Tegalwaru yaitu mencapai 318 mm per bulan, dan yang terendah terjadi di Kecamatan Talagasari yaitu hanya 51 mm.

Demografi

Penduduk umumnya adalah suku Sunda yang menggunakan Bahasa Sunda. Di daerah utara Kabupaten Karawang, seperti di Kecamatan Batujaya dan Kecamatan Pakisjaya, Kecamatan Tempuran Kecamatan Cilamaya, mereka menggunakan Bahasa Sunda Kasar, beberapa kosakata yang mereka gunakan adalah ‘aing’ (bhs. Sunda standar kuring/abdi), ‘nyanéh’ (bhs. Sunda standar manéh/anjeun), nyanéhna (bhs. Sunda standar manéhna/anjeunna), nyaranéhna (bhs. Sunda standar maranéhna/aranjeunna), manyaho (bhs. Sunda standar nyaho/terang). Tetapi di daerah selatan Kabupaten Karawang, mereka menggunakan bahasa Sunda standar.

Penduduk Kabupaten Karawang mempunyai mata pencaharian yang beragam, tetapi di sejumlah kecamatan, mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani atau pembajak sawah karena Kabupaten Karawang adalah daerah penghasil padi.

Pemerintahan

Kabupaten Karawang terdiri atas 30 kecamatan, yang dibagi lagi atas 197 desa dan 12 kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Karawang Timur, tepatnya di kelurahan Karawang Wetan.

Potensi

Kabupaten Karawang merupakan lokasi dari beberapa kawasan industri, antara lain Karawang International Industry City KIIC, Kawasan Surya Cipta, Kawasan Bukit Indah City atau BIC di jalur Cikampek (Karawang). Salah satu industri strategis milik negara juga memiliki fasilitasnya di deretan kawasan industri tersebut, yaitu Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (http://www.peruri.co.id/) yang mencetak uang kertas, uang logam, maupun dokumen-dokumen berharga seperti paspor, pita cukai, meterai dan lain sebagainya.

Di bidang pertanian, Karawang terkenal sebagai lumbung padi Jawa Barat.

Fauna identitas

Ayam Ciparage adalah ayam khas asli dari Kabupaten Karawang yang merupakan ayam laga legendaris, Karena ayam ini memiliki gaya bertarung yang cepat seperti ayam Birma. Pukulan tajinya akurat dan bertubi-tubi mengarah ke kepala dan leher lawan. Gaya bertarung seperti ini sangat “mematikan” bagi lawan yang ukuran tubuhnya sama. Bahkan, ayam Ciparage seringkali mampu mengalahkan lawan yang lebih besar. Ayam Ciparage adalah varietas ayam petarung lokal terbaik asli Indonesia. Ayam ini berasal dari kampung Ciparage, Desa Cilamaya, Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat. Konon ayam Ciparage adalah keturunan dari ayam milik adipati Singaperbangsa yang melegenda.

Flora identitas

Flora atau tumbuhan yang menjadi identitas wilayah kabupaten Karawang adalah Jambu air Cincalo, menurut data statistik dari dinas pertanian provinsi Jawa Barat, wilayah kabupaten Karawang merupakan wilayah yang terbesar sebagai sentra penanaman pohon Jambu. Jambu air Cincalo yang berwarna merah banyak terdapat di wilayah kabupaten Karawang yang oleh masyarakat sekitar disebut sebagai Jambu Bolang[19] yang jika matang maka akan berwarna merah tua kebiruan dengan rasa manis asam segar, kecamatan yang terkenal dengan “Jambu Bolang” ini adalah kecamatan Tirtajaya

Kesenian Daerah

Kesenian daerah kabupaten Karawang dipengaruhi oleh budaya dari tiga suku asli Jawa Barat yaitu Sunda, Betawi dan Cirebon.

Wayang kulit Cirebon di Karawang

Wayang kulit Cirebon yang terdapat di wilayah kabupaten Karawang merupakan bagian dari wilayah pedalangan Cirebon gaya kulonan yang di antaranya berada di kabupaten Subang dan kabupaten Karawang, pada pola penyebarannya di kabupaten Karawang wilayah desa-desa di kecamatan Cilamaya Wetan, kabupaten Karawang ( termasuk di antaranya wilayah desa Cilamaya dan pemekarannya ), sebagian wilayah desa di kecamatan Banyu Sari ( termasuk di antaranya desa Banyu Asih ) menjadi pusat utama pelestariannya , desa-desa tersebut juga bersinergi dengan desa-desa lain yang masih satu budaya di wilayah kabupaten Subang seperti desa Rawa Meneng dan sekitarnya yang juga memegang peranan penting dalam menghidupkan dan melestarikan wayang kulit Cirebon di kabupaten Karawang

Gaya sunggingan (pewarnaan) pada wayang kulit Cirebon gaya kulonan terutama Cilamaya memiliki perbedaan yang tidak jauh dengan gaya sunggingan wayang kulit Cirebon gaya kidulan terutama Palimanan, menurut Waryo (budayawan Cirebon) hal tersebut dimungkinkan karena pada masa lalu para pedalang dan pengrajin wayang antar kedua wilayah saling bertukar dan saling melakukan pembelian wayang kulit cirebon.

Tradisi Mapag Sri dan Wayang kulit Cirebon

Tahun 2014 tepatnya pada bulan Oktober menandai berakhirnya kekosongan tradisi syukuran panen atau yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan istilah mapag sri yang selama kurang lebih lima puluh tahun hampir tidak pernah digelar di blok Cibango, desa Cilamaya, kecamatan Cilamaya Wetan, kabupaten Karawang. Tradisi ini juga disempurnakan dengan pagelaran wayang kulit cirebon gaya kulonan ( cilamaya ).

Menurut Aef Sudrajat yang merupakan ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Saluyu yang menggelar syukuran tersebut, kekosongan yang terjadi selama kurang lebih lima puluh tahun disebabkan oleh modernisasi dan rendahnya kesadaran masyarakat untuk melestarikan tradisi syukuran. Berkurangnya masyarakat yang melakukan tradisi syukuran mapag sri dimungkinkan terjadi dalam kondisi masyarakat yang mayoritas muslim dikarenakan dalam salah satu urutan prosesi tradisi mapag sri ada sebuah prosesi mengarak simbolisasi dewi sri untuk mengelilingi kampung yang oleh beberapa kalangan masyarakat muslim bagian ini dianggap tidak Islami walau bagian lain dalam prosesi syukuran mapag sri pada budaya Cirebon telah kental nuansa Islamnya. Beberapa masyarakat adat Cirebon telah mengganti simbolisasi dewi sri ini dengan sepasang pengantin padi seperti pada tradisi mapag sri di pesisir timur kabupaten Indramayu sehingga tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman.

Pada masyarakat adat Cirebon di wilayah Cilamaya dan sekitarnya, tradisi syukuran mapag sri dimaknai sebagai wujud syukur kepada Allah swt menjelang musim panen, tradisi syukuran mapag sri merupakan bagian dari rangkaian tradisi panen, pasca panen dan menjelang tanam padi, pada masyarakat adat Cirebon di wilayah Cilamaya dan sekitarnya rangkaian tradisi selanjutnya setelah syukuran mapag sri adalah tradisi hajat bumi atau dalam bahasa setempat dikenal dengan istilah Babaritan yang dilakukan setelah prosesi panen dan kemudian tradisi mapag cai ( membawa air ) yang dilakukan menjelang musim tanam.

Menurut Aef Sudrajat prosesi Mapag Sri di wilayahnya dapat dilakukan dengan dukungan dari donatur dan sumbangan dari delapan kelompok tani yang tergabung di dalam Gapoktan pimpinannya, prosesi mapag sri disempurnakan dengan pagelaran wayang kulit cirebon gaya kulonan yang dipimpin oleh Ki Dalang Udama dari desa Rawa Meneng, kecamatan Blanakan, kabupaten Subang. Pagelaran wayang kulit cirebon gaya kulonan tersebut dipentaskan siang – malam di kompleks pemakaman sesepuh blok Cibango, oleh masyarakat sekitar prosesi pagelaran wayang kulit ini disebut “prosesi ngaruwat” atau selamatan guna memohon doa dari Allah swt agar dijauhkan dari bahaya, penyakit dan kesulitan. pada pagelaran wayang kulit cirebon yang menjadi pelengkap prosesi adat mapag sri, lakon wayang yang biasanya dipentaskan adalah lakon Sulanjana yang bercerita tentang asal muasalnya padi.

Transportasi

Ibukota kabupaten Karawang berada di jalur pantura. Kabupaten Karawang dilintasi ruas jalan tol Jakarta-Cikampek(Karawang) serta Cipularang (Cikampek(Karawang)-Purwakarta-Padalarang) dan Cipali (Cikopo(Karawang)-Palimanan(Cirebon)). Cikampek merupakan kecamatan yang berada di bagian timur Kabupaten Karawang. Di Cikampek terdapat stasiun kereta api yang merupakan pertemuan dua jalur utama dari Bandung dan dari Cirebon menuju Jakarta.

Berkas:Curug cigentis.jpgPariwisata

  1. Pantai Tanjung Pakis
  2. Bendungan Walahar
  3. Curug Bandung
  4. Curug Cigeuntis
  5. Pantai Tanjung Pakis
  6. Pantai Samudra Baru
  7. Pantai Tanjung Baru
  8. Danau Cipule

Olahraga

Karawang adalah tuan rumah PORPROV Jabar X tahun 2006. Klub olahraga yang berbasis di kabupaten Karawang di antaranya adalah Persika Karawang dan Pelita Jaya FC (sepak bola), Persika Karawang dan Pelita Jaya menggunakan Stadion Singaperbangsa.

Sumber: Situs Kabupaten Karawang, Wikipedia

Keunggulan

Di usia yang ke-382 tahun yang jatuh pada tanggal 14 September 2015, Kabupaten Karawang yang saat ini dipimpin oleh Plt.Bupati Karawang dr. Cellica Nurrachadiana terus berbenah diri. Sudah banyak keberhasilan pembangunan yang selama ini telah dinikmati masyarakat, walaupun masih banyak kekurangan seiring dinamika perkembangan pembanngunan yang memacu semangat pemerintah daerah beserta seluruh elemen masyarakat untuk terus mengerahkan seluruh potensi yang dimiliki dengan meningkatkan motivasi daerah untuk terus mengembangkan diri menuju pembangunan yang berkelanjutan, demi mencapai kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.

Perjalanan waktu dari awal berdirinya Karawang 381 tahun yang lalu yang diawali dengan diserahkannya Pelat Kuning Kandang Sapi Gede oleh Ki Ranggagede kepada Astrawardana, serta lumbung berisi padi sebanyak lima takes lebih tiga belas jait kepada Ki Singaperbangsa untuk membangun basis pertahanan mataram di tahun 1633 Masehi, Kabupaten Karawang saat ini telah menjadi daerah yang berkembang menjadi salah satu basis perekenomian nasional.

Perkembangan Kabupaten Karawang di usianya yang ke-382 tahun salah satunya dapat terlihat dari laju pertumbuhan ekonomi (LPE) yang stabil yakni 7,87 persen dengan jumlah penduduk diperkirakan mencapai 2.250.120 jiwa. Kondisi perekonomian rata-rata masyarakat Kabupaten Karawang dapat terlihat dari kondisi Peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) perkapita atas dasar harga konstan menjadi sebesar Rp. 13.109.640,00 dan Peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan sebesar 29,498 juta rupiah.

Di sisi lain, angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Karawang ternyata turut menunjukkan pertumbuhan positif, yaitu berada pada angka 71,98, dengan komponen Angka Melek Huruf (AMH) sebesar 93,49 Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) sebesar 7,45; Angka Harapan Hidup (AHH) sebesar 68,18; serta Indeks Daya Beli Perkapita sebesar 641,70 per kapita. Kondisi tersebut tentunya cukup menggembirakan mengingat IPM merupakan salah satu indikator pemantau pencapaian pembangunan manusia di suatu wilayah, yang telah dipandang strategis oleh kaum akademisi sebagai indikator yang menunjukkan tingkat keberhasilan pembangunan yang bersifat non fisik.

Dalam konteks pembangunan daerah, Kabupaten Karawang pun menunjukkan adanya perkembangan yang cukup positif di berbagai bidang. Hal ini sejalan dengan penetapan visi Kabupaten Karawang, yang telah menjadi fondasi utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Melalui visi ”Karawang Sejahtera Berbasis Pembangunan Berkeadilan Dilandasi Iman dan Taqwa”, arah kebijakan umum daerah difokuskan kepada bidang-bidang yang menjadi prioritas pembangunan daerah.

Bidang pendidikan

Kebijakan pendidikan di Kabupaten Karawang dilaksanakan dengan 3 pilar kebijakan pendidikan nasional yaitu

  1. pemerataan dan perluasan akses
  2. peningkatan mutu relevansi dan daya saing
  3. tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik

Pencapaian kinerja bidang pendidikan tahun 2014 adalah :

  1. Pelaksanakan pembangunan unit sekolah & rehabilitasi ruang kelas sebanyak 1.239 lokal, yang terdiri dari SD/MI sebanyak 357 lokal, SMP/MTs sebanyak 194 lokal, dan SMA/MA/SMK sebanyak 158 lokal.
  2. Kualitas guru dan hasil didik ditindak lanjuti dengan peningkatan mutu didik dan hasil didik sebagai berikut :
    1. Angka lulus sekolah pada tahun 2014 sebanyak 95.701 siswa.
    2. Persentase kelulusan ujian dari SD/MI pada tahun 2014 sebesar 100 persen, SMP/MTs sebesar 100 persen, dan SMA/SMK/MA sebesar 100 Persen.
    3. Persentase angka putus sekolah pada tahun 2014 untuk jenjang SD/MI sebesar 0,01 persen, SMP/MTs sebesar 0,2 persen dan SMA/SMK/MA sebesar 0,47 persen.
    4. Persentase sekolah yang terakreditasi untuk tingkat SD/MI sebesar 92,29 persen, SMP/MTs sebesar 77,84 persen serta SMA dan Sederajat 91,42 persen.
    5. Jumlah guru SD/MI, SMP/MTs dan SMA/SMK/MA pada tahun 2014 sebanyak 20.148 orang.
    6. Jumlah guru yang telah berijazah S1 pada tahun 2014 sebanyak 17.069 guru, dan yang sudah tersertifikasi sebanyak 9.930 guru dan yang belum tersertifikasi sebanyak 7.139 guru.
  3. Pada jenjang pendidikan non formal
    1. Diselenggarakan paket A, B dan C sampai dengan tahun 2014 paket A setara SD sebanyak 3.034 warga belajar, paket B setara SMP sebanyak 17.515 warga belajar dan paket C setara SMA sebanyak 10.765 warga belajar.
    2. Jumlah PKBM sebanyak 65 unit, jumlah PKBM yang mempunyai nomor lembaga sebanyak 47 unit, jumlah lembaga kursus dan pelatihan sebanyak 56 dan jumlah tutor sebanyak 510 orang.

Kebijakan – kebijakan di bidang pendidikan tersebut telah menunjukkan hasil yang cukup positif bagi pertumbuhan Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Karawang. Hal tersebut terlihat dalam indikator bidang pendidikan yang mengalami kenaikan, antara lain :

  1. Angka Melek Huruf (AMH) pada tahun 2014 meningkat menjadi 94,49 persen.
  2. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) pada tahun 2014 sebesar 7,45 tahun.

Bidang kesehatan

Pada bidang kesehatan masyarakat, fokus pembangunan diarahkan pada upaya :

  1. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat
  2. Terkendalinya pertumbuhan penduduk dan meningkatnya keluarga kecil berkualitas

Hasil capaian kinerja kesehatan antara lain :

  1. Angka capaian IPM bidang kesehatan, yaitu angka harapan hidup pada tahun 2014 sebesar 71,97 tahun.
  2. Penanganan pasien miskin pada tahun 2014 dengan sumber dana jamkesda sebanyak 47.936 kunjungan pasien dengan biaya sebesar 48,891 milyar rupiah, sumber dana jamkesda (APBD Provinsi dan APBD Kabupaten) sebanyak 26.403 kunjungan pasien dengan biaya sebesar 52,997 milyar rupiah.
  3. Jumlah desa siaga aktif sebanyak 307 desa, jumlah poskesdes aktif 145 poskesdes, jumlah posyandu purnama sebanyak 721 posyandu dan jumlah posyandu mandiri sebanyak 77 posyandu.
  4. Sarana kesehatan pada tahun 2014:
    1. Jumlah RSUD Kabupaten 1 unit
    2. Jumlah rumah sakit swasta 20 unit
    3. Jumlah puskesmas sebanyak 50 unit
    4. Jumlah pusling (kendaraan operasional) sebanyak 50 unit, Jumlah poned sebanyak 27 unit
    5. Jumlah posyandu sebanyak 2.228 unit
    6. Jumlah apotik sebanyak 260 unit
    7. Jumlah balai pengobatan perusahaan sebanyak 44 unit
    8. Jumlah klinik utama sebanyak 5 unit
    9. Jumlah klinik pratama sebanyak 255 unit
    10. Jumlah klinik perusahaan sebanyak 35 unit
    11. Jumlah gudang farmasi sebanyak 1 unit.
  5. Jumlah tenaga kesehatan pada tahun 2014, antara lain :
    1. Jumlah dokter umum sebanyak 803 orang, dokter spesialis sebanyak 228 orang dan dokter dokter gigi sebanyak 120 orang.
    2. Jumlah perawat sebanyak 1.188 orang.
    3. Jumlah bidan sebanyak 694 orang.
  6. Kondisi akseptor KB dan penduduk Kabupaten Karawang pada tahun 2014, antara lain :
    1. Peserta akseptor KB baru berjumlah 98.004 orang.
    2. Peserta akseptor KB aktif berjumlah 833.896 orang.
    3. Pengendalian jumlah penduduk tersebut juga tampak dari laju pertumbuhan penduduk, yaitu pada tahun 2014 sebesar 1,11 persen.
    4. Jumlah penduduk di kabupaten karawang pada tahun 2014 relatif stabil, yaitu sebanyak 2.250. 120 Jiwa.

Bidang ekonomi kerakyatan

Pengembangan ekonomi kerakyatan merupakan bidang yang paling berat untuk dapat mendongkrak hasil pembangunan. Bidang ini berkaitan dengan :

  1. pembangunan sektor pertanian dalam rangka meningkatkan pendapatan dan nilai tambah serta menjaga ketahanan pangan dengan sistem agribisnis;
  2. peningkatan pemerataan dan pertumbuhan ekonomi
  3. peningkatan kegiatan produksi sektor-sektor perekonomian daerah yang berbasis sumberdaya lokal.

Capaian kinerja dari upaya pengembangan ekonomi yang telah dilaksanakan tersebut diantaranya dapat terlihat melalui :

  1. Laju Pertumbuhan Ekonomi yang cukup stabil, yaitu sebesar 7,87 persen.
  2. Peningkatan PDRB per kapita atas dasar harga konstan, menjadi 13.109.640 rupiah.
  3. Peningkatan PDRB atas dasar harga konstan, menjadi 29,498 juta rupiah.
  4. Kemampuan daya beli masyarakat yang didekati dengan kebutuhan standar minimal untuk dapat hidup layak (purchasing power parity-ppp) mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, yaitu sebesar 641,70 per kapita.
  5. Peningkatan ketahanan pangan, daya saing, diversifikasi, produktivitas, dan nilai tambah produk pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan dan kehutanan adalah sebagai berikut :
    1. Luas panen padi sawah seluas 195.285 hektar.
    2. Produksi padi sawah sebesar 1,481 juta ton Gabah Kering Panen (GKP).
    3. Produktivitas padi sawah meningkat nyata, yaitu sebesar 76,05 kuintal per hektar.
    4. Luas panen padi gogo seluas 3,2 ribu hektar.
    5. Produksi padi gogo sebesar 13.200 ton gkp.
    6. Produktivitas padi gogo sebesar 42,83 kuintal per hektar.
    7. Produksi palawija sebesar 12.700 ton.
    8. Produktivitas palawija sebesar 51,13 kuintal per hektar.
    9. Jamur merang dengan jumlah produksi 4,7 ribu ton dengan produktivitas 2,30 kuintal per kubung per panen.
    10. Potensi produksi di sektor perikanan cukup menggembirakan baik perikanan budidaya maupun perikanan tangkap. Pada tahun 2014 produksi perikanan tangkap sebesar 8,77 ribu ton, sedangkan produksi perikanan budidaya sebesar 41,2 ribu ton dan produk olahan hasil perikanan seperti pindang sebesar 28,4 ribu ton, ikan asin sebesar 3,95 ribu ton, terasi sebesar 285 ribu ton dan krupuk sebesar 1.2 ribu ton.
    11. Potensi produksi di sektor peternakan digambarkan dalam data daging, telur dan susu yang dihasilkan, dimana produksi daging di Kabupaten Karawang pada tahun 2014 sebesar 9,12 ribu ton, produksi telur sebesar 4,02 ribu ton, sedangkan produksi susu sebesar 40 ton.
    12. Jumlah populasi ternak besar sebanyak 10,1 ribu ekor, ternak kecil 3.756 ribu ekor dan unggas sebanyak 14.1 ribu ekor.
  6. Peningkatan kegiatan sektor - sektor perekonomian daerah yang berbasis sumber daya lokal diantaranya adalah pada sektor pariwisata. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah kunjungan wisatawan nusantara ke Kabupaten Karawang pada tahun 2014 sebanyak 229.000 orang, dan jumlah keikutsertaan dalam pameran pariwisata sebanyak 5 kali.
  7. Pengembangan industri di Kabupaten Karawang yang diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan daya saing produksi. Sektor industri masih didominasi oleh industri kecil formal dan non formal disusul industri menengah besar. Jumlah PMA di Kabupaten Karawang sebanyak 540 unit, PMDN sebanyak 237 unit non fasilitas sebanyak 224 unit, dan industri kecil sebanyak 9.025 unit.
  8. Total realisasi investasi PMA dan PMDN di Kabupaten Karawang pada tahun 2014 mencapai 25,723 trilyun rupiah, yang terdiri atas realisasi investasi PMA sebesar 20,226 trilyun rupiah dan realisasi investasi PMDN sebesar 5,497 trilyun rupiah. Sehingga Kabupaten Karawang ditetapkan sebagai peringkat ketiga dalam kontribusinya terhadap investasi di Provinsi Jawa Barat.
  9. Total penyerapan tenaga kerja PMA dan PMDN di Kabupaten Karawang pada tahun 2014 sebanyak 70.906 orang, yang terdiri atas tenaga kerja indonesia sebanyak 70.714 orang dan tenaga kerja asing sebanyak 192 orang.
  10. Pengembangan sistem pendukung usaha bagi usaha mikro kecil dan menengah lewat lembaga koperasi. Dengan realisasi kinerja yaitu jumlah wirausaha yang berdaya saing sebanyak 10.850 wirausaha, jumlah kualitas kelembagaan KUMKM yang telah terstandarisasi, terakreditasi dan tersertifikasi sebanyak 569 unit, jumlah koperasi aktif di Kabupaten Karawang pada tahun 2014 sebanyak 1.481 unit, dengan volume usaha mencapai 230,186 milyar rupiah.

Bidang infrastruktur

Pembangunan infrastruktur wilayah berkaitan dengan :

  1. Peningkatan prasarana jalan, jembatan dan drainase
  2. Peningkatan kualitas fisik prasarana penunjang pertanian
  3. Ketertiban, keamanan, kenyamanan transportasi jalan

Hal tersebut pada tahun 2014 dilaksanakan melalui :

  1. Peningkatan jalan kabupaten tahun 2014 sepanjang 134,98 km
  2. Rehabilitasi jalan dan bahu jalan kabupaten pada tahun 2014 sepanjang 4,97 km
  3. Pemeliharaan rutin jalan kabupaten tahun 2014 sepanjang 24,23 km
  4. Pembangunan jalan desa (penyirtuan dan rigid tahun 2014 sepanjang 74,77 km
  5. Terlaksananya rehabilitasi/pemeliharaan

Penghargaan-penghargaan

  1. Juara I cerita bergambar SD festival lomba seni siswa nasional (FLS2N) tingkat nasional
  2. Festival lomba seni siswa nasional (FLS2N) tingkat provinsi jawa barat, juara umum tingkat provinsi, juara I kriya anyam sd, juara I cerita bergambar SD, juara II nyanyi tunggal SD
  3. Juara II bridge design competition atau lomba desain dan uji kekuatan maket pelajar SMAN 1 karawang kejuaraan tingkat nasional civil engineering innovation contest
  4. Penghargaan untuk alokasi dana APBD II terbesar ke-2 se-indonesia untuk pendidikan non formal dan informal
  5. Juara I lomba pos PAUD tingkat provinsi oleh PAUD anggrek kecamatan ciampel
  6. Juara I apresiasi PTK PAUDNI tingkat nasional kategori instruktur tata busana oleh LKP dewi welas asih
  7. Juara I pameran hari aksara internasional dengan pengunjung terbanyak
  8. Juara I lomba penguji kendaraan bermotor teladan kompetensi penguji pelaksana lanjutan tingkat provinsi jawa barat dalam rangka hari perhubungan nasional tahun 2014
  9. Juara III lomba P2WKSS tingkat propinsi jawa barat
  10. Kepala desa terbaik tingkat propinsi jawa barat sebagai pendukung program P2WKSS
  11. Juara I lomba KB perusahaan tingkat nasional
  12. Juara I motivator KB pria tingkat provinsi jawa barat
  13. Terbaik I katagori dokter praktek swasta tingkat provinsi jawa barat
  14. Juara I paguyuban KB pria tingkat provinsi jawa barat
  15. Juara I katagori promosi KB generasi berencana melalui pembuatan film durasi pendek tingkat provinsi jawa barat
  16. Juara II lomba pidato kependudukan dan keluarga berencana (KKB) tingkat nasional
  17. Juara I KIE stand up comedy kader generasi berencana tingkat provinsi jawa barat
  18. Juara II pembina paguyuban KB pria tingkat provinsi jawa barat
  19. LK3 terbaik se- indonesia
  20. Sertifikat ISO dari SGS untuk 6 jenis izin (SIUP, TDP, TDG, TDI, izin perpajangan HO dan izin trayek)
  21. Sumbangan investasi ke-dua se-jawa barat setelah kabupaten bekasi
  22. PTSP terbaik kategori sedang se-jawa barat
  23. Pengiriman tim kesenian unggulan tingkat kabupaten, provinsi dan nasional sebagai juara ke III dalam lomba helaran hut sukabumi yang ke- 100 tahun
  24. Pemain musik tradisional terbaik dalam acara pasanggiri tari, musik dan theatre di Bakor PP wilayah II purwakarta
  25. Binojakrama padalangan tingkat provinsi jawa barat di kabupaten karawang sebagai juara III dalang terbaik
  26. Pengiriman tim kesenian unggulan tingkat kabupaten, provinsi dan nasional sebagai juara III HUT kodim dalam festival seni budaya lokal topeng banjet di cirebon
  27. Peringkat 7 penerapaan keterbukaan informasi publik terlengkap tingkat provinasi jawa barat
  28. Peringkat 3 penyediaan informasi publik terlengkap tingkat provinsi jawa barat
  29. Peringkat 4 pengumuman informasi publik terlengkap tingkat provinasi jawa barat
  30. Juara II bidang teknologi jajar legowo tingkat provinsi jawa barat
  31. Juara II bidang inovasi teknologi pengendalian OPT tingkat provinsi jawa barat
  32. Juara II lomba ketangkasan bidang peternakan tingkat provinsi jawa barat
  33. Juara kameumeut mojang jajaka tingkat provinsi jawa barat
  34. Juara kameumeut mojang jajaka tingkat provinsi jawa barat
  35. Sertifikat kabupaten halal dari gubernur jawa barat tahun 2014
  36. Nominator Terbaik III kategori Penyelenggara Manajemen Kepegawaian yang Bermutu, Akuntabel, Inovatif dan Kreatif (BAIK) Tingkat Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun 2015 .

Berbagai capaian dan keberhasilan tersebut tentunya hanya dapat dicapai oleh adanya dukungan dari seluruh elemen masyarakat yang ada di Kabupaten Karawang. Namun demikian, berbagai capaian dan keberhasilan tersebut masih perlu ditingkatkan kembali, dan sekaligus akan menjadi tantangan tersendiri bagi kita dalam menghadapi permasalahan yang lebih kompleks di masa yang akan datang. Terlebih berbagai capaian dan keberhasilan tersebut bukanlah merupakan tujuan utama, karena hasil akhir yang diharapkan adalah terwujudnya masyarakat Kabupaten Karawang yang maju, sejahtera, dan adil dalam kemakmuran serta ada dalam ridlo dan bimbingan Allah SWT. Selengkapnya di sini...

Data Wilayah

Perizinan & Pembiayaan

GDE Error: Error retrieving file - if necessary turn off error checking (404:Not Found)

Sumber: BPMPT Kabupaten Karawang